After Taste

Jadi minggu kemarin ada turnamen catur. Penyelenggaraan turnamen catur ini diselenggarakan sekitar satu setengah jam perjalanan dari rumah. Sementara itu keluarga besar sebenarnya ada acara ke Semarang untuk menengok keponakanku yang lahir beberapa waktu sebelumnya. Aku sendiri memilih tidak ikut karena event catur ini.

Sebenarnya, tidak begitu penting event catur ini. Jadi opsional, ikut ke Semarang atau mengikuti turnamen catur ini. Selain itu, agenda lain bisa dibuat, ada Roadrace di Blora. Aku bisa menonton itu jika aku menginginkannya. Pada akhirnya aku memilih mengikuti turnamen caturnya.

Hasil catur tidak begitu begitu bagus, aku kalah di partai 1 dan 2 baru di partai 3 dan selanjutnya aku meraih kemenangan. Harapan untuk masuk 30 besar terbuka jika aku menang di babak terakhir, tapi nasib belum berpihak. Aku kalah di babak terakhir jadi aku keluar dari 30 besar atau bisa jadi 20 besar jika aku menang. Sebenarnya tidak menjadi soal, tapi seharusnya aku bisa memenangkan poin di babak terakhir itu.

Well, itu berlalu. Acara dihadiri berbagai kalangan salah satunya anggota klub catur dari Kunduran, aku diundanglah main ke markasnya klub catur ini. Sebenarnya aku telah diundang sejak lama tapi belum berkesempatan hadir di markasnya. Jadi, kemarin selepas dari turnamen catur itu mampirlah aku ke tempat itu. Markas caturnya berupa warung kopi.

Sore menjelang petang aku sampai di markasnya. Awalnya aku berencana pulang pukul 7 atau paling telat pukul 8 malam. Rencana tinggallah rencana, begitu di banyak kesempatan. Itu juga yang terjadi hari itu, karena asiknya bermain menjadikan waktu tidak berasa berlalu dengan cepat. Secara tiba-tiba sudah menunjukkan pukul 9 lebih 15 menit. Aku menyesalinya.

Saat pergi pagi hari aku tidak berencana untuk pulang semalam itu. Aku ingin pulang santai pukul 4 atau 5 sore, dengan lebih santai toleransi sampai pukul 7 malam. Akan tetapi pada akhirnya karena keasikan bermain pukul 9 pun lewat.

Aku pulang dengan sedikit terburu-buru, memang tidak ada siapapun di rumah, tapi bukan itu yang penting. Hal terpenting yang dilewatkan adalah soal rasa. Rasa setelah bahagia bermain dan melanggar peraturan sendiri, rasanya ada rasa sedikit bersalah dan sesuatu yang tidak enak.

Rasa ini juga muncul saat aku menikmati sebungkus mie instan.

Terkadang aku ingin menikmati sebungkus mie instan, aku memasaknya jika tanpa telur terkadang aku menyesalinya. Kenapa? Karena rasanya tidak seenak itu, tidak untuk sampai melanggar sesuatu di dalam hati.

Itu juga yang dirasakan saat pulang terlambat karena ketentuan diri sendiri.

Rasa ini juga muncul saat kita telah mengobrol panjang dengan seseorang dengan begitu intens dan begitu dekat. Lalu tiba-tiba setelahnya dia menghilang, after taste nya menjadi tidak enak.

Barangkali rasa ini karena merasa ada rasa bahagia berlebihan dalam satu waktu dan rasa bahagia berlebihan itu hilang dengan seketika.

After taste

0 Comments