Hari ini aku duduk di kamar ini mencoba membayangkan kembali tentang masa lalu, menceritakan kembali apa yang telah kulewati sepanjang perlanan sejarah seorang anak manusia. Oh iya perkenalkan aku Syamsuddin Nur seorang mahasiswa Universitas Diponegoro tahun masuk. Tinggi badanku 170 cm dengan berat badan untuk saat ini 50 kg. Belasan tahun yang lalu menjadi salah satu catatan sejarah Indonesia, yang tak akan hilang dari lembaran sejarah negara ini. 21 mei 1998 menjadi salah satu catatan sejarah dan menjadi hari besar tentang8 awal dimulanya apa yang mereka katakan reformasi, dimana pergantian kekuasaan yang secara dramatis mengakhiri kekuasaan yang berpuluh tahun sebelumnya. Oh, apa aku lahir pada hari itu? Tidak. Lalu apa hubungannya denganku? Mungkin pertanyaan itu akan pembaca tanyakan, di depan nanti akan kujelaskan kenapa ini perlu kutulis. 1 bulan setelahnya ditambah beberapa hari aku dilahirkan. 30 Juni 1998 menjadi hari bersejarah untuk diriku. Dalam rumah sederhana menghadap ke utara di dukuh kecil bernama dukuh tlogo, yang masuk kedalam desa Dalangan, Todanan, Blora, Jawa Tengah, Negara Indonesia. Di sana aku dilahirkan pukul 9 pagi dimana bapakku sedang berada di sawah. Aku dilahirkan dari ibu Siti Nurhidayah dan bapak Sukamto. Aku menjadi anak yang kedua setelah saudaraku, kakakku 1 tahun sebelumnya pada tanggal 1 mei 1997. Hari itu selasa dan aku dilahirkan dengan bobot 3,6 kg. Waktu itu aku diberi nama Syamsuddin Nur dan nama kakakku Burhanuddin Nur. Dengan mempunyai 2 anak balita yang masih sangat kecil, tentu saja ibuku sangat kerepotan dengan 2 bayi yang masih kecil, akhirnya kakakku dibawa oleh nenek untuk dirawat. Setelahnya aku dibesarkan seperti anak tunggal, biasanya kami berkunjung ke rumah nenek setiap 2 atau 3 bulan sekali. Nenek yang merawat kakakku adalah orang tua dari ibuku, berasal dari kecamatan Bogorejo, Blora. Walaupun aku jarang bertemu dengan kakak tetapi itu tidak mengurangi rasa sayangku terhadapnya.
Dengan masa kecil yang indah sebagai anak desa dan dipenuhi permainan tradisional dan belum ada invasi dari permainan gawai seperti masa dewasa ini, tentu masa kecilku sangatlah aktif dan menghabiskan tenaga. Ada beberapa cerira yang menggwlikan jika kuingat sekarang, dulu saat lantai rumahku masih tanah aku dibiasakan unruk memakai sandal, pada suatu waktu aku twrtidur di atas kursi tetapi sandal jauh dari jangkauanku, dan yang aku lakukan adalah meminta tolong pada ibu untuk mengambilkan tetapi pada saat itu ibu sedang sibuk, jadi bapak yang mengambilkan, dan yanf menggelikan adalah setelah bapak pergi, bukannya aku memakai sandal itu tetapi aku nengembalikannya dengan berjingkat dan aku kembali lagi ke atas kursi untuk minta tolong lagi ke ibu sampai akhirnya ibu datang dan mengambilkan, akhirnya baru kupakai sandal itu, ah jika ingat hari itu rasanya sangat menggelikan, mungkin ini menjadi kelebihan juga kekuranganku, dalam hal suatu yang benar aku tak akan mengalah, dengan siapapun aku tak akan takut jika itu benar, tetapi sebaliknya apabila aku melakukan kesalahan seolah aku telah menghakimu dirimu sendiri, dan lebih dari itu aku masih suka memaksakan kehendak walaupun dalam pendidikan keluargaku aku telah dilatih untuk mengerti orang lain. Dulu waktu aku kecil saat ada tukang bakso mini lewat aku akan keluar masuk rumah, lalu ibu bertanya,ada apa dek?lalu aku menjawab ibu itu apa sih, dengan polosnya, dan ibu menjawab itu jajanan, ibuku berbeda dengan yang lain di desa, rata-rata orang tua di desa mengatakan bahwa itu jamu yang rasanya pahit saat mereka tidak mau membelikan anaknya jajanan arau sedang tidak memiliki uang, tetapi ibuku selalu bilang saat tidak punya uang, ibu bilang kalau nanri ada uang akan dibelikan, tetapi saat ini ibu tidak mempunyai uang, begitulah aku dilatih untuk mengerti, dan semua percakapanmu dengan ibu adalah menggunakan bahasa jawa krama, walaupun bukan krama halus, atau paling kebanyakan adalah krama madya, tetapi menurutku itu bagus dan aku sangat berdlayukur sekali sejak kecil dilatih bahasa jawa oleh orang tuaku, saat aku kecil dulu mereka juga memakai bahasa krama saat berbicara denganku tentu ini adalah sebagai pendidikan, sekarang sudah memakai bahasa jawa ngoko karena aku anaknya, walaupun sesekali masih mebggunakan bahasa halus. Diwaktu aku kecil juga masih mengenal beberapa macam permainan tradisional diantaranya yang masih kuingat yaitu permainan kelereng, gasing dan layang-layang. Tentu saja banyak yang bisa kuceritakan walaupun tak semuanya, bagaimana area persawahan di daerah rumahku akan menjadi lahan yang luas untuk memasang layang-layang saat musim kemarau, dan aku terkadang atau juga sering malahan berangkat bukan sore tetapi saat siang pukul 13.00 setelah selesai sholat dhuhur, betapa semangatnya dulu. Ah, jika kuingat waktu menyenangkan sekali melihat keriangan anak-anak bermain. Jika dibandingkan dengan sekarang anak-anak kurang mengenal permainan tradisional dan aku sedih melihat ini, karena menurutku ini adalah salah satu warisan budaya bangsa, sayang sekali.
Dengan masa kecil yang indah sebagai anak desa dan dipenuhi permainan tradisional dan belum ada invasi dari permainan gawai seperti masa dewasa ini, tentu masa kecilku sangatlah aktif dan menghabiskan tenaga. Ada beberapa cerira yang menggwlikan jika kuingat sekarang, dulu saat lantai rumahku masih tanah aku dibiasakan unruk memakai sandal, pada suatu waktu aku twrtidur di atas kursi tetapi sandal jauh dari jangkauanku, dan yang aku lakukan adalah meminta tolong pada ibu untuk mengambilkan tetapi pada saat itu ibu sedang sibuk, jadi bapak yang mengambilkan, dan yanf menggelikan adalah setelah bapak pergi, bukannya aku memakai sandal itu tetapi aku nengembalikannya dengan berjingkat dan aku kembali lagi ke atas kursi untuk minta tolong lagi ke ibu sampai akhirnya ibu datang dan mengambilkan, akhirnya baru kupakai sandal itu, ah jika ingat hari itu rasanya sangat menggelikan, mungkin ini menjadi kelebihan juga kekuranganku, dalam hal suatu yang benar aku tak akan mengalah, dengan siapapun aku tak akan takut jika itu benar, tetapi sebaliknya apabila aku melakukan kesalahan seolah aku telah menghakimu dirimu sendiri, dan lebih dari itu aku masih suka memaksakan kehendak walaupun dalam pendidikan keluargaku aku telah dilatih untuk mengerti orang lain. Dulu waktu aku kecil saat ada tukang bakso mini lewat aku akan keluar masuk rumah, lalu ibu bertanya,ada apa dek?lalu aku menjawab ibu itu apa sih, dengan polosnya, dan ibu menjawab itu jajanan, ibuku berbeda dengan yang lain di desa, rata-rata orang tua di desa mengatakan bahwa itu jamu yang rasanya pahit saat mereka tidak mau membelikan anaknya jajanan arau sedang tidak memiliki uang, tetapi ibuku selalu bilang saat tidak punya uang, ibu bilang kalau nanri ada uang akan dibelikan, tetapi saat ini ibu tidak mempunyai uang, begitulah aku dilatih untuk mengerti, dan semua percakapanmu dengan ibu adalah menggunakan bahasa jawa krama, walaupun bukan krama halus, atau paling kebanyakan adalah krama madya, tetapi menurutku itu bagus dan aku sangat berdlayukur sekali sejak kecil dilatih bahasa jawa oleh orang tuaku, saat aku kecil dulu mereka juga memakai bahasa krama saat berbicara denganku tentu ini adalah sebagai pendidikan, sekarang sudah memakai bahasa jawa ngoko karena aku anaknya, walaupun sesekali masih mebggunakan bahasa halus. Diwaktu aku kecil juga masih mengenal beberapa macam permainan tradisional diantaranya yang masih kuingat yaitu permainan kelereng, gasing dan layang-layang. Tentu saja banyak yang bisa kuceritakan walaupun tak semuanya, bagaimana area persawahan di daerah rumahku akan menjadi lahan yang luas untuk memasang layang-layang saat musim kemarau, dan aku terkadang atau juga sering malahan berangkat bukan sore tetapi saat siang pukul 13.00 setelah selesai sholat dhuhur, betapa semangatnya dulu. Ah, jika kuingat waktu menyenangkan sekali melihat keriangan anak-anak bermain. Jika dibandingkan dengan sekarang anak-anak kurang mengenal permainan tradisional dan aku sedih melihat ini, karena menurutku ini adalah salah satu warisan budaya bangsa, sayang sekali.
Masa Pendidikan
Sebagai pendidikan tentu pendidikan yang pertama dan sangat berpengaruh dalam pandangan hidup adalah pendidikan keluarga. Dan taman kanak-kanak ABA 1 Todanan menjadi pilihan orang tuaku, selama 1 tahun disana dan menemukan teman yang menjadi sahabat sampai sekarang. Setiap pagi ibu atau bapakku mengantar ku ke sekolah dan di siang harinya dijemput ibu atau bapak dan tidak pernah aku ditunggui ataupun dibawakan tasnya seperti anak-anak jaman sekarang. Untuk jenjang berikutnya aku memilih SD Negeri 1 Todanan sebagai tempat belajar, karena kufikir pasa saat itu adalah ini yang terbaik untukku. Ada beberapa cerita lucu yang pernah aku alami pada masa Sekolah Dasar, beberapa yang kuingat hingga saat ini adalah dimana saat aku pada waktu itu berantem dengan teman kelasku saat baru kelas 1 SD, dan aku sampai rumah cerita dengan orang tuaku, bapak bilang kamu adalah laki-laki, asal kamu tidak salah kamu harus berani, atau pindah sekolah saja. Tentu saja aku berani melawan mereka saat aku dijahilin, pernah juga suatu waktu dimana aku dihadang oleh ayam jago, mungkin aku dikira musuhnya ya, tanpa basa-basi dia menyerang anak SD yang pulang sekolah. Di sini juga aku beberapa kali mewakili kecamatan, juga dalam beberapa bidang seperti mocopat, MTQ, Khitobah, Adzan, Cerdas Cermat. Tapi sayangnya aku tak mampu memupuknya lebih jauh, dan di sini juga ada salah satu hobiku yang kutemukan yaitu catur, awal aku bermain catur adalah saat baru Taman Kanak-kanak atau awal Sd kelas 1 aku melihat bahwa catur itu permainan yang unik, dan aku maaih ingat papan catur pertamaku yaitu seharga 10 rb dengan 1 mainan yang lain dibeli di pasar malam keliling, dan pada waktu itu aku langsung melawan bapakku, hasilnya seri. Pertandingan pertamaku dan untuk selanjutnya sempat beberapa kali kalah sampai akhirnya aku mampu mengalahkan bapak, hehehe, setelah itu aku tidak pernah bermain lagi melawan bapak, karena beliau bilang untuk bermain saja dengan teman-temanku, dan untuk di daerahku aku masih bisa mengalahkan mereka bahkan dengan usia mereka yang semuanya lebih tua, termasuk kakakku sendiri, dan bahkan bapak mereka juga mencoba melawanku, saat itu aku duduk di kelas 1 smp, ya walaupun pada awalnya sempat kalah tetapi pada percobaan percobaan selanjutnya aku mampu mengimbangi bapaknya. Dalam 6 tahun di sana aku selalu mendapat 10 besar, dengan rata-rata aku menduduki peringkat 2. Lulus dari sana aku melanjutkan ke SMP Negeri 2 Todanan. Sekolah Menengah Pertama yang terdekat dengan rumahku. Sekolah dengan pemain-pemain voli langganab tim kabupaten Blora. Sebenarnya ada beberapa SMP swasta sebagai pilihan tetapi aku tetap memilih di SMP N 2 Todanan, sekolah ini sangat mewah "mepet sawah" artinya sekolah ini berdekatan atau berbatasan langsung dengan sawah milik petani, bahkan dulu sering traktor lewat sekolah beberapa kali dalam sehari, tentu saja itu sangat mengganggu proses belajar mengajar kami. Dengan tetap mempertahankan peringkat 5 besar, aku memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk diterima di salah satu sekolah lanjutan terbaik di Blora. Meski begitu aku tak mampu berbuat banyak keluar. Tak memiliki hobi yang mampu mengantarkanku ke tingkat provinsi atau yang lebih tinggi. Pada masa Sekolah menengah pertama ini aku juga masih berjalan kaki untuk ke sekolah, ini sangat kontras dengan teman-temanku yang rata-rata memakai sepeda motor, aku masih belum menyukainya karena menurutku belum waktunya, mungkin inilah aku, aku mungkin dianggap anak yang aneh, karena saat aku tak menginginkan sesuatu aku tak akan memakainya kecuali itu hanya keharusan. Untuk selanjutnya aku ke Madrasah Aliyah Negeri Blora, 40 km jauhnya dari rumahku. Sebenarnya sekolah ini bukanlah target utamaku untuk jenjang sekolah lanjutan tingkat atas. Bukan karena nilai ataupun seleksi yang membuatku tak masuk ke sekolah targetku. Waktu itu aku telat mendaftar. Dan pada intinya aku gagal mendaftar di sekolah target utama, berawal dari ini aku merasa kehilangan hampir sepertiga semangat belajar ke sekolah. Aku menjadi susah dalam belajar. Entah ini karena kualitas, tapi aku rasa bukan di situ masalahnya. Pada akhirnya mungkin pada awalnya sebagai media pelampiasanku aku memasuki organisasi di dalam sekolah yaitu OSIS. Sampai pada kelas 11 diberi amanah untuk menjadi Ketua OSIS MAN Blora masa bhakti 2014/2015. Dalam masa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ini aku juga sudah mengenal wanita, ya harus kuakui memang ada ketertarikan sebagai remaja, walaupun begitu aku masih belum memiliki teman wanita yang menurutku speaial mereka hanya datang saat butuh, dan sampai sekarang aku masih menutup diri lagi unutuk itu, menurutku mereka hanya memanfaatkan atau mungkin itu hanya asumsiku saja karena aku masih belum menemukan yang sama gilanya denganku untuk berimajinasi, yah belum menemukan kecocokan sampai Juni 2016 aku lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, sesuai dengan rencanaku sebelumnya bahkan sejak kecil aku akan mendaftar kuliah. Aku yakin nanti ada jalan, itu yang kupikirkan pada waktu itu. Jalur pertama SNMPTN 2016 telah gagal masuk pemeringkatan di sekolah, walaupun aku nggak nyangka akan turun sejauh itu tapi memang aku tidak berharap banyak di SNMPTN. Tentu saja jalur favorit bagi para siswa adalah SBMPTN, aku mendaftarkan diri di SBMPTN 2016 dengan pilihan pertama Ilmu Hukum Undip, aku bahkan masih ingat detail-detail saat aku mengikuti SBMPTN 2016 dimana kebetulan waktu itu mendapatkan tempat ujian juga di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, dengan dimana aku berangkat dari Todanan, Blora pada hari sebelumnya naik bus hingga aku menginap di foto copy dekat dengan Fakultas Hukum, tetapi sayang pada saat itu Tuhan berkata lain, mungkin belum waktuku belajar di Universitas atau Allah masih ingin melihat kesungguhanku. Selain SBMPTN itu akupun juga mendaftar akutansi di Politeknik Negeri Semarang, tetapi jawaban masih sama yaitu jangan putus asa. Aku juga pernah mendaftar sebagai calon kadet atau calon taruna dalam TNI, 2 kali aku mencoba, keduanya gagal. Pertama di TNI AL dan yang kedua di TNI AD. Aku gagal karena yang tak dapat aku perbaiki adalah buta warna parsial, dimana dalam buta warna ini aku tidak bisa membaca huruf tokek khususnya merah atau aku merah lemah, ah sudahlah, pikirku waktu itu. Sempat aku merasa fruatasi dengan kegagalan-kegagalan itu. Kurang lebih 2 bulan di rumah untuk mengambil keputusan selanjutnya, dengan belum adanya kegiatan, dan setiap hari hanya tidur, melakukan pekerjaan rumah, nonton tv, dan aku juga pernah tertarik dalam perdagangan saham, karena ada tayangan di stasiun tv swasta pada sekitar jam 9 pagi, hari-hari itu cukup berat. Antara aku masih tetap mencoba SBMPTN di tahun selanjutnya yaitu 2017 atau aku bekerja menjual tenaga, tentu saja dengan ijazah MA ku atau aku kuliah di UT lalu menjadi seorang pengabdian. Itu semua terlintas di fikiranku, sampai suatu waktu kakak sepupuku mengajakku untuk membantu usahanya. Lalu kufikir, mungkin ini saja dulu karena aku masih bisa berada di rumah masih bisa belajar untuk SBMPTN tahun selanjutnya. Kakak sepupuku ini membangun sebuah koperasi di bawah naungan PKBM Upat-Upat Bumi. Di PKBM ini memiliki banyak fasilitas beberapa yang memang sudah kusentuh langsung adalah koperasi itu sendiri aku masuk sebagai bagian administrasinya, Bagian Kejar Paket C aku berada di bagian Tata Usaha, bagian dagang untuk angkringan aku masih bisa masuk sebagai pemasok barang dagangan. Di sana aku masih juga bisa belajar ataupun sekedar bacaan bacaan ringan di Perpustakaan Sumber Ilmu milik PKBM Upat-Upat Bumi. Kebetulan PKBM ini berada di desaku, di sini juga masih ada beberapa yang aku belum masuk me dalamnya yaitu seperti pembibitan ikan lele dan nila atau pembuatan mebel, servis mobil, servis laptop. Aku cukup belajar banyak di sana, sedikit memahami bagaimana masyarakat tentang pengetahuan pengaturan keuangan mereka, berwirausaha, ataupun tentang bagaimana wawasan mereka tentang pentingnya pendidikan. Pada komunitas ini pula aku memandang kasus pegunungan kendeng atau pabrik semen menjadi penting, karena memang ternyata yang mereka perjuangkan adalah tanah bukan hanya sekedar perut, dan aku berasumsi dalam diriku sendiri bahwa, apa mungkin nanti di masa depan bangsa Indonesia akan ekspor semen dengan kualitas super tetapi import beras untuk memenuhi konsumsi dalam negeri? Ah lucu sekali. Aku juga pernah dikirim sebagai perwakilan PKBM di Semarang untuk mengikuti Bimbingan Teknis Keaksaraan dasar, tentang bagaimana mengenalkan aksara kepada orang orang yang usia produktif tetapi tidak bisa membaca. Dan di sana aku terlihat sekali sebagai yang termuda. Hihi lucu memang, mereka rata-rata adalah seusia ibuku tetapi aku bergabung di sana sebagai rekan, ada juga beberapa sarjana baru era tahun 2010 an ke atas. Dan aku berfikir di situ mungkin ini dunia sebenarnya, pengabdian masyarakat sebenarnya. Tetapi dalam hatiku masih bergejolak untuk tetap mendaftarkan diri pada SBMPTN 2017. Walaupun pada waktu pendaftaran masih memiliki keraguan, tetapi keraguan untuk ragu tidak mendaftar hilang setelah melihat orang tua dengan semangat memberi dorongan. Akhirnya hatiku berkata bahwa memang Pendidikan itu penting aku harus kuliah seperti apa yang Udin kecil cita-citakan. Dulu saat aku masih kecil yang aku bayangkan adalah untuk mampu kuliah di Semarang, dan setelah itu aku bercita-cita untuk menjadi pengusaha yang sukaea dimana kita menciptakan pekerjaan itu sendiri dengan mempekerjakan orang lain, pasti itu sangat bermanfaat untuk orang banyak, dan setelah tumbuh lagi aku ingin menambah lagi bukan hanya sekedar menjadi pengusaha yang sukses tetapi juga mampu menjadi wakil rakyat atau memiliki kekuasaan politik atau setidak-tidaknya mempunyai suara yang bisa didengar oleh orang lain, lalu seiring bertambahnya waktu dan tumbuh lebih dewasa lagi, jika aku hanya ikut dalam kekuasaan politik belaka artinya ini hanya akan mengikuti arus, mengikuti sistem yang ada saat ini, menurutku sistem yang saat ini tidak memuaskan, bagaimana tidak, kejujuran nasih menjadi barang yang mahal, keadilan sangat susah untuk direalisasikan, sampai pada akhirnya aku bermimpi bahwa suatu saat nanti aku mampu memperbaiki sistem di Indonesia, baik itu pendidikan, hukum, ekonomi, sosial, politik, tentu bisa lewat berbagai media. Dengan menarget Ilmu Hukum Undip di daftar pilihan pertama (lagi). Dan akhirnya akupun sedikit terkejut karena yang aku targetkan setelah keluar dari pintu ruang ujian SBMPTN adalah pilihan kedua. Aku berfikir bahwa tak masuk untuk di Undip. Tetapi Alhamdulillah Allah mengijinkanku untuk duduk di sink sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, jadi apa aku nanti biarlah Allah yang memberi tetapi aku tetap memiliki keinginan tentu saja.
Sebagai pendidikan tentu pendidikan yang pertama dan sangat berpengaruh dalam pandangan hidup adalah pendidikan keluarga. Dan taman kanak-kanak ABA 1 Todanan menjadi pilihan orang tuaku, selama 1 tahun disana dan menemukan teman yang menjadi sahabat sampai sekarang. Setiap pagi ibu atau bapakku mengantar ku ke sekolah dan di siang harinya dijemput ibu atau bapak dan tidak pernah aku ditunggui ataupun dibawakan tasnya seperti anak-anak jaman sekarang. Untuk jenjang berikutnya aku memilih SD Negeri 1 Todanan sebagai tempat belajar, karena kufikir pasa saat itu adalah ini yang terbaik untukku. Ada beberapa cerita lucu yang pernah aku alami pada masa Sekolah Dasar, beberapa yang kuingat hingga saat ini adalah dimana saat aku pada waktu itu berantem dengan teman kelasku saat baru kelas 1 SD, dan aku sampai rumah cerita dengan orang tuaku, bapak bilang kamu adalah laki-laki, asal kamu tidak salah kamu harus berani, atau pindah sekolah saja. Tentu saja aku berani melawan mereka saat aku dijahilin, pernah juga suatu waktu dimana aku dihadang oleh ayam jago, mungkin aku dikira musuhnya ya, tanpa basa-basi dia menyerang anak SD yang pulang sekolah. Di sini juga aku beberapa kali mewakili kecamatan, juga dalam beberapa bidang seperti mocopat, MTQ, Khitobah, Adzan, Cerdas Cermat. Tapi sayangnya aku tak mampu memupuknya lebih jauh, dan di sini juga ada salah satu hobiku yang kutemukan yaitu catur, awal aku bermain catur adalah saat baru Taman Kanak-kanak atau awal Sd kelas 1 aku melihat bahwa catur itu permainan yang unik, dan aku maaih ingat papan catur pertamaku yaitu seharga 10 rb dengan 1 mainan yang lain dibeli di pasar malam keliling, dan pada waktu itu aku langsung melawan bapakku, hasilnya seri. Pertandingan pertamaku dan untuk selanjutnya sempat beberapa kali kalah sampai akhirnya aku mampu mengalahkan bapak, hehehe, setelah itu aku tidak pernah bermain lagi melawan bapak, karena beliau bilang untuk bermain saja dengan teman-temanku, dan untuk di daerahku aku masih bisa mengalahkan mereka bahkan dengan usia mereka yang semuanya lebih tua, termasuk kakakku sendiri, dan bahkan bapak mereka juga mencoba melawanku, saat itu aku duduk di kelas 1 smp, ya walaupun pada awalnya sempat kalah tetapi pada percobaan percobaan selanjutnya aku mampu mengimbangi bapaknya. Dalam 6 tahun di sana aku selalu mendapat 10 besar, dengan rata-rata aku menduduki peringkat 2. Lulus dari sana aku melanjutkan ke SMP Negeri 2 Todanan. Sekolah Menengah Pertama yang terdekat dengan rumahku. Sekolah dengan pemain-pemain voli langganab tim kabupaten Blora. Sebenarnya ada beberapa SMP swasta sebagai pilihan tetapi aku tetap memilih di SMP N 2 Todanan, sekolah ini sangat mewah "mepet sawah" artinya sekolah ini berdekatan atau berbatasan langsung dengan sawah milik petani, bahkan dulu sering traktor lewat sekolah beberapa kali dalam sehari, tentu saja itu sangat mengganggu proses belajar mengajar kami. Dengan tetap mempertahankan peringkat 5 besar, aku memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk diterima di salah satu sekolah lanjutan terbaik di Blora. Meski begitu aku tak mampu berbuat banyak keluar. Tak memiliki hobi yang mampu mengantarkanku ke tingkat provinsi atau yang lebih tinggi. Pada masa Sekolah menengah pertama ini aku juga masih berjalan kaki untuk ke sekolah, ini sangat kontras dengan teman-temanku yang rata-rata memakai sepeda motor, aku masih belum menyukainya karena menurutku belum waktunya, mungkin inilah aku, aku mungkin dianggap anak yang aneh, karena saat aku tak menginginkan sesuatu aku tak akan memakainya kecuali itu hanya keharusan. Untuk selanjutnya aku ke Madrasah Aliyah Negeri Blora, 40 km jauhnya dari rumahku. Sebenarnya sekolah ini bukanlah target utamaku untuk jenjang sekolah lanjutan tingkat atas. Bukan karena nilai ataupun seleksi yang membuatku tak masuk ke sekolah targetku. Waktu itu aku telat mendaftar. Dan pada intinya aku gagal mendaftar di sekolah target utama, berawal dari ini aku merasa kehilangan hampir sepertiga semangat belajar ke sekolah. Aku menjadi susah dalam belajar. Entah ini karena kualitas, tapi aku rasa bukan di situ masalahnya. Pada akhirnya mungkin pada awalnya sebagai media pelampiasanku aku memasuki organisasi di dalam sekolah yaitu OSIS. Sampai pada kelas 11 diberi amanah untuk menjadi Ketua OSIS MAN Blora masa bhakti 2014/2015. Dalam masa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ini aku juga sudah mengenal wanita, ya harus kuakui memang ada ketertarikan sebagai remaja, walaupun begitu aku masih belum memiliki teman wanita yang menurutku speaial mereka hanya datang saat butuh, dan sampai sekarang aku masih menutup diri lagi unutuk itu, menurutku mereka hanya memanfaatkan atau mungkin itu hanya asumsiku saja karena aku masih belum menemukan yang sama gilanya denganku untuk berimajinasi, yah belum menemukan kecocokan sampai Juni 2016 aku lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, sesuai dengan rencanaku sebelumnya bahkan sejak kecil aku akan mendaftar kuliah. Aku yakin nanti ada jalan, itu yang kupikirkan pada waktu itu. Jalur pertama SNMPTN 2016 telah gagal masuk pemeringkatan di sekolah, walaupun aku nggak nyangka akan turun sejauh itu tapi memang aku tidak berharap banyak di SNMPTN. Tentu saja jalur favorit bagi para siswa adalah SBMPTN, aku mendaftarkan diri di SBMPTN 2016 dengan pilihan pertama Ilmu Hukum Undip, aku bahkan masih ingat detail-detail saat aku mengikuti SBMPTN 2016 dimana kebetulan waktu itu mendapatkan tempat ujian juga di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, dengan dimana aku berangkat dari Todanan, Blora pada hari sebelumnya naik bus hingga aku menginap di foto copy dekat dengan Fakultas Hukum, tetapi sayang pada saat itu Tuhan berkata lain, mungkin belum waktuku belajar di Universitas atau Allah masih ingin melihat kesungguhanku. Selain SBMPTN itu akupun juga mendaftar akutansi di Politeknik Negeri Semarang, tetapi jawaban masih sama yaitu jangan putus asa. Aku juga pernah mendaftar sebagai calon kadet atau calon taruna dalam TNI, 2 kali aku mencoba, keduanya gagal. Pertama di TNI AL dan yang kedua di TNI AD. Aku gagal karena yang tak dapat aku perbaiki adalah buta warna parsial, dimana dalam buta warna ini aku tidak bisa membaca huruf tokek khususnya merah atau aku merah lemah, ah sudahlah, pikirku waktu itu. Sempat aku merasa fruatasi dengan kegagalan-kegagalan itu. Kurang lebih 2 bulan di rumah untuk mengambil keputusan selanjutnya, dengan belum adanya kegiatan, dan setiap hari hanya tidur, melakukan pekerjaan rumah, nonton tv, dan aku juga pernah tertarik dalam perdagangan saham, karena ada tayangan di stasiun tv swasta pada sekitar jam 9 pagi, hari-hari itu cukup berat. Antara aku masih tetap mencoba SBMPTN di tahun selanjutnya yaitu 2017 atau aku bekerja menjual tenaga, tentu saja dengan ijazah MA ku atau aku kuliah di UT lalu menjadi seorang pengabdian. Itu semua terlintas di fikiranku, sampai suatu waktu kakak sepupuku mengajakku untuk membantu usahanya. Lalu kufikir, mungkin ini saja dulu karena aku masih bisa berada di rumah masih bisa belajar untuk SBMPTN tahun selanjutnya. Kakak sepupuku ini membangun sebuah koperasi di bawah naungan PKBM Upat-Upat Bumi. Di PKBM ini memiliki banyak fasilitas beberapa yang memang sudah kusentuh langsung adalah koperasi itu sendiri aku masuk sebagai bagian administrasinya, Bagian Kejar Paket C aku berada di bagian Tata Usaha, bagian dagang untuk angkringan aku masih bisa masuk sebagai pemasok barang dagangan. Di sana aku masih juga bisa belajar ataupun sekedar bacaan bacaan ringan di Perpustakaan Sumber Ilmu milik PKBM Upat-Upat Bumi. Kebetulan PKBM ini berada di desaku, di sini juga masih ada beberapa yang aku belum masuk me dalamnya yaitu seperti pembibitan ikan lele dan nila atau pembuatan mebel, servis mobil, servis laptop. Aku cukup belajar banyak di sana, sedikit memahami bagaimana masyarakat tentang pengetahuan pengaturan keuangan mereka, berwirausaha, ataupun tentang bagaimana wawasan mereka tentang pentingnya pendidikan. Pada komunitas ini pula aku memandang kasus pegunungan kendeng atau pabrik semen menjadi penting, karena memang ternyata yang mereka perjuangkan adalah tanah bukan hanya sekedar perut, dan aku berasumsi dalam diriku sendiri bahwa, apa mungkin nanti di masa depan bangsa Indonesia akan ekspor semen dengan kualitas super tetapi import beras untuk memenuhi konsumsi dalam negeri? Ah lucu sekali. Aku juga pernah dikirim sebagai perwakilan PKBM di Semarang untuk mengikuti Bimbingan Teknis Keaksaraan dasar, tentang bagaimana mengenalkan aksara kepada orang orang yang usia produktif tetapi tidak bisa membaca. Dan di sana aku terlihat sekali sebagai yang termuda. Hihi lucu memang, mereka rata-rata adalah seusia ibuku tetapi aku bergabung di sana sebagai rekan, ada juga beberapa sarjana baru era tahun 2010 an ke atas. Dan aku berfikir di situ mungkin ini dunia sebenarnya, pengabdian masyarakat sebenarnya. Tetapi dalam hatiku masih bergejolak untuk tetap mendaftarkan diri pada SBMPTN 2017. Walaupun pada waktu pendaftaran masih memiliki keraguan, tetapi keraguan untuk ragu tidak mendaftar hilang setelah melihat orang tua dengan semangat memberi dorongan. Akhirnya hatiku berkata bahwa memang Pendidikan itu penting aku harus kuliah seperti apa yang Udin kecil cita-citakan. Dulu saat aku masih kecil yang aku bayangkan adalah untuk mampu kuliah di Semarang, dan setelah itu aku bercita-cita untuk menjadi pengusaha yang sukaea dimana kita menciptakan pekerjaan itu sendiri dengan mempekerjakan orang lain, pasti itu sangat bermanfaat untuk orang banyak, dan setelah tumbuh lagi aku ingin menambah lagi bukan hanya sekedar menjadi pengusaha yang sukses tetapi juga mampu menjadi wakil rakyat atau memiliki kekuasaan politik atau setidak-tidaknya mempunyai suara yang bisa didengar oleh orang lain, lalu seiring bertambahnya waktu dan tumbuh lebih dewasa lagi, jika aku hanya ikut dalam kekuasaan politik belaka artinya ini hanya akan mengikuti arus, mengikuti sistem yang ada saat ini, menurutku sistem yang saat ini tidak memuaskan, bagaimana tidak, kejujuran nasih menjadi barang yang mahal, keadilan sangat susah untuk direalisasikan, sampai pada akhirnya aku bermimpi bahwa suatu saat nanti aku mampu memperbaiki sistem di Indonesia, baik itu pendidikan, hukum, ekonomi, sosial, politik, tentu bisa lewat berbagai media. Dengan menarget Ilmu Hukum Undip di daftar pilihan pertama (lagi). Dan akhirnya akupun sedikit terkejut karena yang aku targetkan setelah keluar dari pintu ruang ujian SBMPTN adalah pilihan kedua. Aku berfikir bahwa tak masuk untuk di Undip. Tetapi Alhamdulillah Allah mengijinkanku untuk duduk di sink sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, jadi apa aku nanti biarlah Allah yang memberi tetapi aku tetap memiliki keinginan tentu saja.
0 Comments