Entah bagaimana, perkataanku bisa menjadi sering disalahpahami. entah karena diksi yang kugunakan atau momen yang seolah bertepatan, atau pembawaanku yang membuatnya terlihat demikian.
Kuceritakan sebuah
kisah.
Saat kuliah dulu aku
mengikuti sebuah organisasi yang mana rapat tahunannya dinamakan muktamar.
Muktamar ini salah satu agenda pentingnya adalah reorganisasi, dan yang paling
genting dari reorganisasi ini adalah pergantian ketua organisasi. Pemilihan
ketua organisasi ini juga penuh intrik, cara-cara seperti pemilihan politik
pemilihan umum kita. Tetapi di sisi lain juga bagi yang bersangkutan untuk
dicalonkan sebagai ketua, dia biasanya menolak untuk dicalonkan.
Momen ini terjadi saat tahun keduaku mengikuti muktamar ini. Dalam
momen muktamar ini, kita sempat deadlock untuk membujuk salah satu calon untuk
maju sebagai ketua organisasi ini. Dia dengan sangat menolak gagasan pencalonan
ini, dengan sangat sendu dia menjelaskan dia tidak menginginkan jabatan ketua
ini. Dia berlinang air mata dalam menjelaskan kesibukannya, tentang
keinginannya untuk rajin-rajin pulang dari Semarang karena tahun yang telah
terlewat dia sangat sibuk. Di sini walaupun kami bujuk dan lain sebagainya, dia
memohon dengan sangat untuk menolak, dan sekali lagi aku gambarkan “dia
berlinang air mata” sekadar diketahui dia laki-laki. Rasa-rasanya cukup jarang
untuk melihat momen seperti itu berlinang air mata. Dengan kata tegas, dia menangis
walaupun tidak sesenggukan tapi momen itu ‘mengharukan’.\
Tahun berikutnya, saat muktamar diadakan lagi. Kita ada di momen
yang sama menjelang pergantian ketua organisasi. Di gedung yang sama, di ruang
yang sama. Aku sudah lupa momen tahun lalu soal yang bersangkutan menangis di
acara ini. Saat itu susunan meja kursi terdiri dari tiga kelompok: kanan,
tengah, dan kiri. Aku duduk di tengah barisan belakang susunan kursi itu, suatu
momen yang tidak disengaja, yang bersangkutan duduk di pojok kanan belakang. Malapetaka
tidak bias ditolak, mulut ini berniat untuk bercanda dengan spontan melontarkan
kata-kata “loh jangan duduk di pojok lo mas, nanti menangis.”
Aku tidak bermaksud sama sekali untuk me-recall kenangan tahun lalu, tanpa maksud itu. Aku hanya sekadar
bercanda sesaat, tapi setelah kuingat bertahun tahun kemudian. Ternyata momen
itu bisa sekasar itu.
Cerita lain adalah saat aku berkunjung ke Tulungagung. Saat itu
aku berwisata bersama seorang kawan, kami dari Semarang berangkat malam hari ke
Solo. Lalu dari Solo kami naik kereta menuju Tulungagung. Sesampainya di
Tulungagung kami belum mempersiapkan apapun, termasuk untuk menyewa motor untuk
berkeliling di Tulungagung. Sebenarnya telah ada upaca dari kami untuk
mencarinya secara online tapi belum bisa mendapatkannya. Kami pikir nanti bisa
didapatkan saat telah sampai di Tulungagung.
Setelah menunggu beberapa lama, kami akhrinya mendapatkan alamat
persewaan motor yang jaraknya cukup lumayan dari Stasiun. Kami berdua
memutuskan untuk memesan layanan taksi online.
Sekadar diketahui bahwa cuaca saat itu panas, saat aku pesan taksi online itu sekitar pukul 2 siang. Sebagai
anak yang hidup di lingkungan petani, aku terbiasa mendengar basa-basi mengenai
cuaca hari ini. Suatu hal yang kebetulan hari itu panas terik.
Saat kami masuk mobil taksi yang kami pesan, dengan basa-basi
tanpa prasangka aku melontarkan “panas ya pak.”
Ternyata beliau menjawabnya seolah diberi complain dari pelanggan. “memang lagi hemat mas, acnya gak
dinyalakan,”
Waktu itu aku sama sekali tidak bermaksud complain soal AC tapi sopir taksi menangkapnya sebagai maksud
demikian. Aku hanya ingin berbasa-basi mengenai cuaca hari itu yang memang
sedang panas terik.
Momen yang lain terjadi di kota yang sama Tulungagung.
Pada hari berikutnya saat kami telah explore Tulungagung kami akan pulang dengan naik kereta kembali
dengan titik tujuan Solo. Saat itu sore, di stasiun Tulungagung cukup ramai. Momen
ini adalah saat kami menunggu kereta datang, kami para penumpang telah siap di
samping rel. Saat itu kami membawa tas ransel untuk membawa barang bawaan kami.
Penumpang lain juga dengan barang bawaan mereka, ada kardus, koper atau tas punggung
seperti kami.
Waktu itu kami sedang berjalan untuk mencari posisi sebelum kereta
datang. Suatu hal yang kebetulan tenggorokan terasa gatal, dan ada bapak-bapak
berdiri di depan kami. Aku berdeham karena memang tenggorokan gatal, tapi
respon bapak-bapak ini dengan menyingkir dari jalan seolah …
Padahal aku sama sekali tidak bermaksud untuk menciptakan suasana
itu. Aku memang benar-benar sedang gatal pada tenggorokan.
Rasa-rasanya aku sering disalahpahami. Ada momen-momen lain
rasanya tapi belum kuceritakan di sini.

0 Comments